RSS Feed

Pilih teman.

Satu hal yang gue inget begitu pertama kali masuk TK. Seinget gue mom pernah kasi wanti-wanti (yang sampe gue umur belasan tahun masih gue anggap sah-sah aja), beliau berujar “Nanti disana nggak boleh pilih-pilih temen ya. Tapi jangan sama yang nakal”. Well, akhirnya sampe di SD gue denger lagi nasehat yang mirip-mirip dengan itu waktu pelajaran PPKn. Nggak baek ngebeda-bedain temen, baik itu kasta sosial, kasta keuangan maupun kasta nasib muka. Dan hal itu masih gue pegang teguh sampe saat gue nulis jurnal ini.

Tapi beberapa tahun sebelumnya, ternyata nasehat itu sebenarnya mesti dikasi embel-embel sedikit untuk membuat hidup gue lebih tenang sedikit. Hehe. Gue emang nggak boleh ngebeda-bedain temen dari aspek yang udah gue sebutin diatas, tapi gue nggak salah juga donk kalo mesti berteman dengan orang-orang yang punya “taste” dan “passion” yang sama dengan gue? Awalnya gue pikir mungkin ini cuma terjadi di dunia nyata gue, tapi ternyata…

Ini gue alami ketika baru berkenalan dengan blog dan mencoba menjadi salah satu warga yang nantinya dipanggil dengan titel blogger di dunia maya sejak 5 tahun yang lalu. Awalnya sih siapa aja gue ajak kenalan. Dari yang sifatnya dari A ke Z, juga dari materi dan gaya tulisannya yang dari Z balik muter lagi ke A. Hehe. Tapi dari situ ternyata gue temukan bahwasanya milih temen di dunia maya juga ternyata sama aja dengan di dunianya sana. Terutama soal rasa dan gaya tulisan.

Gue kurang suka dengan orang yang tulisannya ajaib-aduhai-melow-bener. Bukan nge-judge gue benci orang model begini sih, cuma gue kurang sreg aja dengan pribadi gue yang meskipun dalam keadaan melow, ya nggak melow-melow bangetlah ya. Suka rada geregetan sendiri ngebaca tulisan yang terlalu puitis nan melankolis. Hehe. Dari sejak itulah, gue yang awalnya welkom-welkom aja dan nggak masalah kalo mesti add contact dengan segala macam “taste” blogger, akhirnya gue batasi kalo orang-orang yang (nantinya) gue baca tulisannya pertama kali dipojok “reader” (kalo di wordpress istilahnya ini, tapi di blog lain beda, pokoke yang sejenis itulah) adalah tulisan-tulisan dengan rasa dan gaya penulisan mirip-mirip gue, bercerita nggak terlalu melow, nggak terlalu berbelit-belit untuk menyampaikan maksudnya alias lugas, dan dengan gaya bahasa yang santai coy. Karena gue ini tipikal blogger yang meskipun sekilas, gue bakal baca tulisan-tulisan orang-orang yang gue follow. Dan ini yang buat gue mesti merevisi nasehat tadi yang gue terima dari sejak kecil. Gue ngerasa sah-sah aja kalo memilih teman dalam artian hanya untuk rasa kecocokan saja, bukan dari miskin, kaya, cantik, jelek apalagi kepopuleran. Toh kalo tetap dipaksain dan akhirnya berasa annoying ngeliat tulisannya yang “apa-sih??!”, mending cukup ketemu pas lewat aja sewaktu blog walking.

Hal ini juga bukan berarti gue nggak mau difollow sama orang-orang dengan taste berbeda, gue nggak masalah kalo difollow, tapi kalo diminta follow back, ayem sori gue nggak bisa. Karena begitu gue misuh-misuh bin muka “apa-sih?!” baca sesuatu yang bukan “taste” gue, jatuhnya kan gue jadi nggak ikhlas temenan? Ya toh? 🙂

Jadi ya gitu deh, intinya gue disini cuma pengen merevisi nasehat dari ibu dan bapak guru gue dulu. *peace 😀

Advertisements

About myalterstory

Just a "not-girl-not-yet-a-woman" that hopelessly need to escape from her crazy life. Duh!

Something to say? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: