RSS Feed

Broken home…

Rumah rusak. Iye, gitu kalo di translate tumpleg-bleg per kata dari kamus *mencoba ngelucu, ih. Tapi yang gue maksud disini itu istilah lain untuk broken home, lebih spesifiknya, kondisi kejiwaan seseorang akibat sesuatu hal/keadaan.

Banyak yang bilang, anak dari keluarga yang orang tuanya bercerai, mereka sudah pasti kondisi kejiwaannya “broken home”. Kondisi dimana ada keterpurukan jiwa (yang mungkin juga disertai keterpurukan sikap, kurangnya rasa percaya diri, kondisi keuangan dan entah apa yang lainnya, pokoke miris gitulah) yang di alami seorang anak atas kekecewaan terhadap orang tua yang gagal mempertahankan rumah tangga yang seharusnya jadi tempat bernaung si anak dengan nyaman.

Definisi gue soal istilah broken home diatas bukan gue kutip dari buku psikologi mana pun, nggak ada satupun psikolog yang pernah gue baca, soalnya gue takut mendapati diri ternyata gila meski dalam tingkat “coffee late”. Haha. Defisini itu datang dari pengalaman gue sendiri. “Hah??! Ortu elu cerai, non??”. Itu yang mungkin terpikir di otak anda semua sekarang. Tapi kalo yang sering ngikutin curhat gue soal ortu, mereka belom cerai kok, at least kalo mereka memang sudah mempersiapkannya pasti gue udah singgung-singgung dari kemaren. Belom, para beliau yang berkuasa dirumah gue ini belom memutuskan untuk berpisah (meski dari pihak wanita sudah sering mengajukan dengan lantang, tapi nggak diitung ye kalo wanita yang berkicau dan yang cowoknya diem aje kayak tembok). But that even worse. Lebih parah ketimbang orang tua yang sudah bercerai lahir batin, entah perceraiannya diakhiri dengan masih bersilahturahmi dengan baik, atau nggak mau tau kabar satu sama lain. Thats better menurut gue.

Iiiihh non, kualat lu ye nyumpahin orang tua biar cerai, padahal anak yang diambang broken home biasanya berusaha biar ortunya bisa balikan lagi dan batalin cerai. Ada yang mau komentar gitu ke gue? Minta bibirnya di staples? *sadis. Memang lebih gampang kalo cuma ngomong dan berpendapat kalo nggak ngalami sendiri, dan kalopun mengalami hal yang sama, trust me, they’ll never be exactly the same thing, so, buckle up and hear my story.

I’d rather to see them separated and stop fighting and hurt each other rather than staying together but gently ruin everything near them. Mungkin dulu, duluuuuuuuuuuuuuuuuuuu banget, gue berharap mereka bisa baikan. Tapi lama-lama hati gue jadi kebas juga setelah sekian puluh tahun melihat bagaimana mereka bertengkar, seperti udah pengen mutilasi satu sama lain kalo lagi happening ngamuknya, untungnya para beliau ini pada pengecut sih, jadi nggak pernah ada acara tampar-tamparan atau gebuk-gebukan apalagi sampe pertumpahan darah. Haha.

Mereka bertengkar seringnya, mengatas-namakan kepentingan keluarga dan gue serta anaknya yang satu lagi. Memang sih, apa yang mereka pertengkarkan beberapa persen adalah kepentingan gue dan adek. Tapi yang bisa gue liat, semuanya karena ego kedua belah pihak, biasa, masalah keluarga besar. Keluarganya papa (sodari-sodari beliau) nggak (begitu) suka sama mom. Entah kenapa gue juga nggak ngerti dan belom tanya sama pihak sana. Tapi kalo gue kesempatan tanya juga pasti bakal dijawab dengan absurdnya (biasa deh, orang dewasa kadang nggak mau terang-terangan ketidak-sukaannya, buat gue itu munafik, gue lebih suka langsung bilang nggak suka atau nggak pernah mau berurusan atau berkomunikasi sekalian).

Tapi dari pihak mom, gue bisa denger ceritanya tanpa gue minta (baca : ada yang curhat). Gue nggak percaya 100% dari cerita mom soal pencetus hampir semua pertengkaran beliau dengan babeh. Ya salah satunya yang berhubungan dengan tante-tante gue dari pihak babeh. Masalahnya lagi-lagi soal duit. Benda terpanas di kehidupan manusia yang bisa bawa bahagia tapi nggak jarang juga bawa petaka. Apalagi kalo duit yang di dapet dengan cara mudah, sebut aja : warisan.

Gue nggak enak kalo mesti ngumbar bagaimana warisan ini bisa jadi salah satu pencetus keluarga gue berasa broken home dari dalem. Gue sebenarnya lebih berpihak ke mom, bukan karena beliau adalah emak gue (setiap ada masalah gue coba untuk objektif tanpa memandang siapa dan siapa, tapi apa yang dibela beliau rasanya memang sudah hak keluarga gue karena harta warisannya sempat mendapat campur tangan duit aseli keluarga gue). Tapi cara mom memperjuangkan hak-nya agaknya rada lebay dan berapi-api, nggak jarang juga memojokkan posisi babeh, mirip sinetron lah, milih keluarganya atau milih anak isterinya. Ha-dehhhhhhhhhhhhh =_____=”

Gue cuma pengen rumah gue tenang. Gue iri dengan keluarga temen-temen gue yang lain. Andai bisa bertukar, rasanya pengen tukeran aja. Pernah sekali saat gue cek-cok sama mom (biasa deh, karena mom ngomel-ngomel nggak jelas duluan, bikin kesabaran gue tandaaass), gue ungkapin hal tersebut. Mungkin itu menyakiti hati mom gue, tapi bukan gue bermaksud begitu, gue cuma pengen sifat-sifat jeleknya mom di redam dan nggak sembarang disembur ke semua orang di sekitarnya tanpa mikirin gimana perasaan orang tersebut supaya rumah ini lebih tenang. Beberapa kali kepikiran, mungkin mom perlu di bawa ke psikiater buat dapetin “anger management“. Hihihi *timpuk.

Sampe sekarang, gue seumur ini, masih sering di teriaki sama mom, kadang juga main fisik dan gue harus nurut apapun keinginan beliau tanpa pernah memikirkan perasaan gue sendiri. Sedih rasanya. Tapi gue nggak bisa berbuat banyak. Yang gue bisa lakukan justru ngebuat gue jadi keliatan kayak anak durhaka, membangkang perkataan orang tua. Gue ngerasa mom coba menyetir kehidupan gue, membuat gue nggak lebih kayak wayang golek. Apapun ide beliau harus mau nggak mau gue mesti nurutin, she never hand me a choice or understand what i want. Gue yang paling males di dikte akhirnya mau nggak mau say no, often, dan karena hal itu gue dibilang pembangkang. Whatever deh. Gue ngerasa, meskipun gue nitip besar di perut beliau, numpang lahir (and sorry if that hurt you so much, mom), dan dibesarkan, tapi gue bukan dibesarkan buat jadi boneka voodoo. Gue punya hati dan pikiran. I just want she to respect about that. And all parents in the world, they have to respect about their child’s choice, because their child is not really belong to them, god just lend it. Dan hal tersebut terpatri dalam hati gue. Someday, if i had some, i have try not to be so selfish. Egois kalo anak-anak gue adalah milik gue seutuhnya, jiwa raga mereka.

Untuk babeh? He seems dont care about this family anymore. Sejak dulu, babeh lebih suka nginep dikantor ketimbang dirumah. Entah kenapa, tapi gue pikir juga mungkin karena males berkonflik dengan mom. Sedikit saja percikan api bisa bikin mesin mom berkicau sepanjang hari, dan nggak bakal ilang topik pembicaraan yang sama minimal seminggu. Dan tiap kali mom mempertanyakan kredibilitas babeh buat menyelesaikan masalah, yang sering terdengar di telinga gue adalah “Nggak tau deh. Terserah” *terus ngeloyor pergi.

Adek gue? Dia lebih punya kesempatan untuk nggak mendengarkan pertengkaran atau teriakan memuakkan mom dirumah. Why? Sejak kuliah, doi jadi punya kesempatan lumrah buat nginep kerumah temennya, alasan paling sering ya karena ngerjain tugas kuliah di kos/rumah temen. Dan dia juga nggak peduli dengan keadaan dirumah, keliatannya dia lebih memilih ketenangannya sendiri ketimbang harus pusing-pusing menengahi mom atau babeh.

I feel stuck in the hell. Itulah yang gue rasain. Kegagalan-kegagalan gue juga kebanyakan disebabkan karena pertengkaran para beliau ini sih. Biasanya, kalo mom sama babeh bertengkar, gue jadi merasa males untuk kerjakan tugas-tugas kuliah gue. Berasa nggak enak, nggak tenang. Gue menutup diri dengan pake headset dikamar sambil maen game hanya supaya gue lebih rileks dan nggak gila. Tapi mom nggak percaya kalo gue gagal cuma gara-gara itu. Beliau menganggap gagalnya gue lebih karena gue sering maen-maen dan nggak konsen kuliah karena gue pacaran. Lah? Justru karena gue pacaran, sampe sekarang ini gue masih waras. Gue punya tempat buat mengadu hal yang terburuk sekalipun dari keluarga gue. Gue terhibur dengan kehadiran pacar-pacar gue (yang semuanya sudah jadi mantan kecuali pacar gue yang sekarang). Why she cant believe that she ruin my life like from the beginning?? Selalu. Beliau menganggap dirinya paling benar. Paling berkuasa (mungkin karena gaji beliau lebih banyak dari punya babeh kali ya? Beliau mungkin capek karena menganggap keluarga ini hanya dipakan oleh mom *well, sepertinya sih).

Setiap kali membicarakan soal ini, hati gue selalu berat, rasanya seperti tersayat, bikin gue nggak bisa dengan ikhlas bersyukur. Bahkan nggak jarang gue ngiri dengan keluarga miskin tapi bahagia secara batin karena sekeluarga kompak ikhlas dengan hidupnya.

Ah, postingan gue jadi ngelantur sana-sini plus loncat-loncat nggak fokus ditiap paragrafnya. Habis gue bingung gimana harus gue menceritakannya, gue bingung harus mulai dari mana. rasanya pengen ngeluarin semua aja gitu sekaligus. Tiap kali gue bercerita atau menulis soal ini, gue berasa lebih relaks, seperti memuntahkan racun. Tapi begitu gue balik lagi ke dunia nyata gue, keluar dari kamar gue, bertemu dengan beliau-beliau yang dalam bayangan gue siap menerkam satu sama lain, hati gue balik nyeri. Pikiran gue kembali kacau. Status gue balik nggak jelas apa gue ini anak hasil broken home apa nggak karena dari luar, keluarga gue nggak broken sama sekali. Crap šŸ˜¦

Mungkin dari semua yang baca ini post bakal mikir, seharusnya gue bersyukur, gue bukan termasuk orang nggak punya(/miskin), masih bisa makan enak, masih bisa pake pakaian layak, masih bisa kuliah ditempat yang bagus, masih bisa menikmati wifi pribadi dengan kecepatan hampir 150KBps-all alone. Pengennya gue bersyukur dengan apa yang gue dapat dari keluarga ini. Tapi susah, apalagi buat ikhlasin segala macam perlakukan yang gue dapet kalo semua nikmat itu cuma hanya sekedar materi.

*nb : tumben gue posting 15oo kata lebih. Wow. Ketika elu-elu pade yang baca ini cerita, you can judge me anything, i dont care about in anyway *sadis.

Advertisements

About myalterstory

Just a "not-girl-not-yet-a-woman" that hopelessly need to escape from her crazy life. Duh!

2 responses »

  1. Aku cm mau blg,,ak jg kurang lbh ngerasain apa yg km rasain..
    Sampe saat ini ak takuut bgt kl babe ama emak lg ada di 1 tempat even itu runahku sndri,rmh kami.. Takut2 ada perang dunia entah untuk yg keberapa,,saking takutnya aku,smp ak hrs ke psikolog.. Kl babe ama emak lg d rmh,bebarengan gt,,ak lbh suka d kmr,pasang headset,trauma mereka bkl teriak2 lg.. Hh..g enak ya..tp ya begitulah hidup,moga jd lbh kuat it aj deh hrpannya

    Reply
    • Hah? Psikolog? Waduh? Sabar yah šŸ˜¦
      Yang lebih gue bingungin lagi, kenapa harus bertahan dengan orang yang tiap ketemu cuma bikin sakit hati? Aiiihh.. Nggak ngerti deh šŸ˜¦

      Reply

Something to say? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: