RSS Feed

Author Archives: myalterstory

Am i cross sort of a line?

This is little note in the start line of a new year in the middle of scripting non-human-verbal-language on my lappie while watching the most hilarious sitcom about the universe and its bang (oh boy, thats a long opening line *extremlyinhale).

I think i’ve cross a line in my relationship. Not that nasty line *khekhekhe. Maksud gue, panggilan yayang yang kebangetan. Panggilan “sayang” adalah bahasa standar yang digunakan untuk menggantikan nama lengkap (entah agar lebih pendek atau biar yang dipanggil merasa kesengsem) dengan tujuan (mungkin) menandai wilayah kekuasaan, menyenangkan pasangan atau mungkin mengikuti trend *wekekekek .

I sometimes call him like i call my (future) husband or a father of my child. Yep, i call him papap *dooh. My father haven’t handed me to him officially as his wife, so its not right to call him like that. And would imply that i have crossing sort of a line.

Gue kadang berasa rada sedikit hilarious, sedang mengalami sakit dengan diagnosis berupa alay, haus akan perhatian dan public attention disorder. Hiy!Β  Kadang juga berasa pamali sama Tuhan. God havent show me that destiny decide me to be his wife, tapi kami udah panggil-panggilan kayak gitu.

Yang terakhir, rasa rada bersalah mendahului takdir itu yang kadang bikin gue : padahal gue bencik banget couples yang lagi manggil-manggil mesra dan public attention disorder sedang kumat dengan menjijikannya, but sometime i do that even tough i never do that i front of public. Tapi tetep aja, feeling its not like me at all. Hehe.

Just that. No point for this note at this time. Cuma menuliskan rasa yang aneh dalam otak gue yang baru aja gue alami. Fyuuhh (once again), feels like its really not me :))

Advertisements

Why, can’t i?

Kadang suka berasa iri kalo liat orang lain sebegitu sayangnya sama ibunya sendiri. Selalu bertanya dalam hati, why can’t i? Iya, gue nggak sayang sama ibu gue sendiri. Gue berasa jadi anak paling durhaka sedunia. Tapi buat gue, suka nggak suka sama orang itu ibarat hitam sama putih, nggak ada abu-abunya, kalopun ada keliatan abu-abu, well itu karena gue sekedar sopan atau ada maunya (jujur banget dah gue).

Sering gue mikir gue yang salah. Terlalu pembangkang. Tapi seiring dewasa gue ngerasa nggak suka dikekang, nggak suka di dikte, dan paling nggak suka ide dan eksistensi gue sebagai manusia seutuhnya dilecehkan. Sorry to say kalo ternyata semua yang nggak gue suka dilakukan oleh ibu gue sendiri. Gue sendiri heran kenapa sifat gue begitu bertentangan dengan seseorang yang darahnya ada di dalam badan gue. Sering kepikiran apa gue ini anak pungut apa gimana gitu, tapi melihat akte sama surat nikahnya ortu rasanya impossible pikiran-pikiran gila gue terjadi beneran.

She is dictator, puppeteers-wanna-be, and also arrogant person. Jahat ya gue menilai ibu sendiri kayak gitu? Nope. Gue ngomong bukan atas dasar gue anak teraniaya, gue ngomong atas dasar psikologi umum perilaku which one is good or bad. Soalnya bukan gue doang yang merasa demikian, 2 other members of mine juga merasa demikian ya demikian. Jadi menurut gue, gue nggak sepenuhnya gila karena nggak mungkin sampe ada 3 orang yang gila dengan hal yang sama.

Entah apa yang dipikiran beliau seringnya bertindak dan berucap nggak menyenangkan buat gue pribadi sebagai manusia. Apa karena rasa begitu memiliki gue makanya beliau bebas bertindak, berucap dan memerintah semaunya tanpa mikirin perasaan dan hati gue in personal as a human being? Seingat gue dari sejak adek gue udah bisa jalan dan orang tua gue sering berantem, gue selalu mencium rasa kecewa beliau terhadap rumah tangga beliau sendiri, but she cant go anywhere anyhow.

Kalo di dalam sinetron mah, kalo ortu udah mau pisah, kedua pihak bakal berebut perhatian anak-anaknya. Nah, gue? Boro-boro disayang, one day beliau pernah bilang gara-gara anaknya beliau nggak bisa pisah dari “hantu blauk” a.k.a suaminya sendiri yang (menurut beliau sendiri) udah bikin hidupnya nggak nyaman, berantakan dan nggak seharmonis rumah tangga orang lain.

Gue waktu itu sih ngerespon ya nggak perlu repot-repot juga kale nyalahin gue atas ketidakbahagiaan beliau. Kalo mau pergi ya pergi aja, no ones like her anyway (jahat gue). But she insist that we couldn’t life without her. She feels like she is the only one who able to maintain this home. Ya waktu gue kecil ya pastilah ya gue nggak bisa, nah sekarang gue seumur ini, apa lagi yang beliau tunggu sebenarnya? Curiganya sih beliau yang nggak bisa kalo nggak ada kami (ge-er).

Gue sampe seumur (yang temen gue aja udah punya anak dua!) gini masih loh dimarahi kayak anak kecil yang dapet panggilan dari sekolahnya, cuma karena hal sepele kayak nggak bersihin rumah padahal beliau tau gue lagi ngerjain tugas dari kampus, berkubang dikamar begadang cuma merem 4 jam sehari dan nggak ada waktu sama sekali bahkan buat mandi! She knows that exactly. Tapi dengan cantiknya ngomel seakan-akan gue penjahat dunia yang pastinya seumur hidup nggak pernah bantuin ibunya beres-beres rumah. Gue cuma saat sibuk aja nggak pedulian soal kondisi rumah mau bersih apa nggak, selain itu, gue bukan penyampah yang senang berkubang dengan sampah, gue cuma terpaksa jadi penyampah di suatu waktu gue sibuk nggak bisa ngapa-ngapain dan. Selama gue ngejar sesuatu dan itu nggak bisa diulang bin berakibat fatal, gue nggak peduli soal lain yang masih bisa ditunda apalagi hal itu masih bisa dikerjakan orang lain (pembantu misalnya, but well, we dont have on cause we dont have a money to pay them). Mestinya beliau support soal itu juga dong. Apalagi tugas gue seumur hidup dikeluarga gue nggak ada yang bisa bantu, disiplin ilmu yang benar-benar berbeda dan nggak cuma sekedar nulis hapal copy paste.

Gue bingung mau jelasin gimana sadisnya perkataan ibu gue menghina-dina nama gue diluar kamar gue waktu itu. Why her? Kenapa cuma beliau yang ngomong begitu ke gue? Seakan ditiap ucapan beliau, gue ini anak yang bangke banget, yang mendingan gue nggak ada di dunia ini. Gue jadi tantrum. Tugas yang harusnya gue selesaikan jadi nggak gue pegang lagi. Gue ngamuk dikamar. Dan dengan muka bersalahnya beliau mencoba menerobos masuk ke kamar lewat jendela gue dan minta maaf.

That’s why i hate her even more. Ini bukan kali pertamanya gue tantrum dengan masalah sepele yang sama dan di waktu genting yang sama. Gue murka, dan parahnya dengan ibu gue sendiri. Kenapa sepertinya beliau selalu mengambil waktu yang salah buat konfrontir gue, disaat gue sedang mepet kepepet dengan tugas dan kerjaan gue dan saat menjelang deadline. Feels like she had a special radar about it dan minta maaf dengan mudahnya.

Wow! Seperti hati gue langsung sembuh aja begitu beliau minta maaf. Gue benci orang yang terus minta maaf setelah berbuat hal yang sama. Why you dont make a same mistake rather than asking a bullshit apologize, then? Berasa dipermainkan, direndahkan dan dianggap gampangan? Sudah tentu.

Thats why deep in my heart, feel like its hard to love her. All my life, what i have for her isΒ  just a thanks to her for giving me a born, living this whole shit without any choise of being “ME”. A real me as human being, a normal one.

And what ever your reaction about this, i dont care. No one knows other pain exactly, because we are not living in the same body and seperated by different soul giving by the mighty God.

———–***———–

Apes

Posted on

Judulnya dibaca pake bahasa indonesia yah, jangan pake bahasa inggris, jauh maksud nya itu sodaraaahh πŸ˜€

Iya, udah semingguan ini gue berasa apesnya. Dari apes yang cuma “ya udah deh”, apes yang “aiiihh, sh*t” sampe apes yang bikin gue nangis sampe kesel.

Berawal dari ke-sotoy-an gue beli barang yang ternyata below my expectation. Terus beberapa janji giveaway yang udah gue janjiin ke beberapa orang tapi molor mulu gegara gue moody, mereka sih oke aja, tapi gue nggak enak.

Yang kedua, adegan “nyaris hilang” tapi akhirnya jadi “hilang beneran”. Dua objeknya berbeda. Yang satu adalah kunci motor gue yang terparkir di kampus. Paginya sewaktu dateng, gue inget bener sudah cabut itu kunci dan masukin di salah satu kantong tas selempang gue seperti biasa. Pulangnya baru deh gue panik gegera kantong yang biasa tempat gue simpan itu kunci ternyata kosong. Gue sampe ditolongin adek tingkat buat nyariin. Eh, malunya. Ternyata setelah ditelusuri beberapa menit, ternyata ada di tas, dikantong yang lain. Haiiissshh!!! Mana udah heboh ngelibatin beberapa orang, eh ternyata gue yang teledor. Beuuhh. Setelah semua beres, gue yang hari itu emang niat ke supermarket buat beli kebutuhan langsung capcus. Ada 2 supermarket langganan gue. Satunya deket kampus, satunya lagi deket rumah. Awalnya bimbang, dalem hati gue pengen mampir yang di dekat rumah aja karena pengen beli sesuatu yang supermarket itu sering sediakan ketimbang yang deket kampus. Etapi 5 menit dijalan gue kok malah belok ke supermarket deket kampus. Gue nggak fokus. Tapi yo wis gue pikir. Nyampe disana, tas gue titipin ketempat penitipan. Gue inget banget itu nomer penitipan gue taroh dikantong belakang celana jeans gue. Setelah hampir 30 menit ngider dan bayar dikasir, gue nyadar itu nomer ilang. Hmmpphh! Gue mesti bayar ganti rugi nomernya 10ribu. Padahal gue belanja udah ngirit sengirit-ngiritnya. Eh, jadi percuma aja. Apes.

Sampe yang terakhir soal mr.big (again) yang kadang kalo pengen bobok ya bobok aja tanpa bilang-bilang diantara percakapan kami. Apalagi kalo lagi ngomong mesra-mesraan chat via whatsapp terus mendadak ngilang. Kebayang nggak sih rasanya? Kayak anak balita ditinggal sendiri sama emaknya ditengah-tengah pasar (Jiaahh. Perumpamaan lu, an) Menyebalkan. Gue mewek saking keselnya. Tapi nggak sampe 5 menit, ikh. Gue kan orangnya paling bisaan nyari pelampiasan esmosi. Gue paling males larut dalam sedih. Waktu gue didunia ini pendek, nggak selamanya. Jadi ngapain gue sedih buat yang nggak penting dan bisa diobati waktu. Gue cukup cari pengalih perhatian sampe masalahnya selese atau at least gue udah sebodo teuing. Akhirnya gue buka wordpress sambil curhat dan nggak lupa buka radio prambros via app streaming. Mantaaaappp. Dengerin lelucon sarkas penyiar beritanya yang memang siaran sampe jam segini. And everythings feel fine (even for a while, nggak tau deh kalo ntar-ntar inget lagi apesnya diri ini. Ngoahahaha)

Dan kejadian terakhir bikin gue insomnia. Masih pengen nyari stress relief sampe gue bener-bener cuek. Siapa yang masih bangun, ngacuuuuunnggg!! Hehe πŸ˜€

Posted from WordPress for Android

[QuickSummary] Last Week of June

Anybody missed me??? *ngarep lu non. Hahaha. Rasanya udah semingguan lebih deh nggak posting apa-apa. Lagi riweuh soalnya. Bukan ruwet sama kerjaan sih, ruwet sama mood sendiri. Hahaha.

So much thing to tell, dari mulai sindrom kebosanan yang melanda gue semingguan kemaren, target aktivitas dan belanjaan yang meleset mulu sampe acara berantem gue sama mr.big beberapa hari kemaren (and fully recovery bahkan sebelum 24 jam *ngakak). Kangen deh pengen menjejali otak kalian dengan curhatan gue yang nggak jelas *ditampol :p

Entah ada angin apa akhirnya gue jadi muaaaaaaaaaaalllleess ngapa-ngapain. Yang gue kerjain cuma browsing nggak jelas (browsing video “how it’s made” -nya Discovery Channel termasuk nggak jelas yah? Haha), nggak update blog dan nggak pula nggak update socmed. Rasanya hampa aja gitu. Lagi nggak mood dan di dukung kesibukan mr.big yang bikin gue ngerasa dicuekin, di kondisi kritis emosional (moody gue kumat).

Merasa kerjaan gue yang cuma browsing geje berakibat tertundanya lagi kerjaan-kerjaan yang seharusnya gue pegang, gue bikin to-do list, ya tapi gitu deeeeeeeeeeeeehhh, gegara mood lagi nggak enak, banyak yang missed, banyak yang telat dan bahkan ada yang nggak terlaksana sama sekali. Semacem deh sama list belanjaan gue yang udah gue susun, emang agak tricky kalo mau belanja hemat, harus rela ngiderin beberapa toko (kalo bisa simpan perkiraan harga biar gampang liat perbandingan harganya). Memang sih kalo di lihat per barang cuma selisih paling gede cuma 1000an, tapi dengan jumlah barang yang gue beli, kadang gue bisa hemat sampe 5000 rupiah, its quite amount of money buat pengangguran nggak jelas macem gue. Kan lumanyun bok segitu bisa beli pulsa. Haha. But now im failed, dengan alesan males kemana-mana, gue cuma belanja warung di depan rumah yang notabene-nya jauh lebih malah dari pada toko #ibu2modeON

Dan beberapa hari kemaren gue berantem dengan si pacar, yang mungkin diakibatkan akumulasi kekesalan gue terhadap sikap mr.big yang menyebalkan (eh, kalo cowok cuek terlalu cuek nggak bakal terlihat cool lagi, tapi menyebalkan!). Gue tau sih dia sibuk, dan gue nggak mau dan nggak bakal ganggu disaat dia sibuk. Tapi the hell deh, dia kan lagi nggak 24jam siaga bencana! Dih. Intinya, i just missed he call/text me first, its kind a feeling that he still remind me no matter what (apalagi pas dijamnya dia sibuk, tapi nggak nuntut juga sih kalo yang ini, cuma berasa romantis aja kalo emang sempet. Hihihi).

Tapi kampretnya mr.big semingguan kemaren adalah he makes me feel he totally forgot me! Pret! Kesannya gue tega bener yah ngatain pacar sendiri kampret, yes i admit that. He is not perfect, but not a jerk either, cuma sekedar kampret tok :p
Sikapnya yang (sok) cool bikin gue kadang geregetan dan biasanya protes, dan saat itu terjadi biasanya doi menerima masukan gue. Tapi sialnya kemaren, saking esmosinya gue, kita berdua yang sedang berkomunikasi by phone dengan posisi doi lagi di jalan (jangan ditiru yah adeeeekkk-adeeeeekk, nggak baek nerima telpon sambil berkendara. Hihi), dan gue keceplosan mengatakan sesuatu yang seharusnya gue nggak lakukan dalam suasana lagi protes, pernyataan yang nggak penting juga sebenarnya, tapi gueeeehhh lagi esmosi!

I kicked something about his job, memang sih kerjaan dia itu sante banget, ongkang-ongkang (dan herannya bergaji gede) tapi membutuhkan siaga penuh saat dibutuhkan. Biasanya kalo lagi bencanda sih kami berdua cekikikan aja nyindir kerjaannya dia, makan gaji buta gue bilang, tapi ternyata nggak lucu sama sekali kemaren dan justru menaikan suaranya beberapa oktaf karena tersinggung (dan marah pastinya). Gue nangis (dan kaget). Manusia dengan tipikal jarang marah dan lebih banyak cengegesan ternyata efek marahnya jauh lebih dahsyat ketimbang orang yang kita tau bertipikal pemarah dan hobby teriak-teriak.

Tapi mr.big bisa paham juga kalo gue ngomong gitu nggak benar-benar buat nyakiti dia, toh dia juga ngaku salah sih, memang semingguan lagi capek, tapi juga bukan alasan buat nyuekin gue seolah-olah gue nggak ada dan baru “ngeh” kalo gue udah nongol via sms/telpon.

Sama seperti 3 tahun yang lalu sebelum balikan lagi seperti saat ini, kami berdua tipe manusia yang easy going (meski kadang easy judging. haha), gampang baikannya. Diakhir percakapan yang bikin naik tensi darah tadi kami baikan, meski ada sisa-sisa peperangan tapi dia coba perbaiki dengan tawarkan buat bangunin gue subuh (biasanya sih bangun sendiri-sendiri trus tepar bobok lagi, haha) dan itu tandanya dia mengibarkan bendera “let’s forget our last fight, im sorry, i love you”. Dan dia menepatinya dengan menelpon gue ngebangunin buat sholat subuh. Huehehehe.

And now, komunikasi kami balik seperti sedia kala. Cerita-cerita via telpon, dan terkadang ngakak karena joke masing-masing dan diakhiri dengan doa spesial kami sebelum tidur seperti biasa yang udah rutin kami jalani hampir 1,5 tahun ini πŸ™‚

[CatatanKecil] The power of Monday

Weekend udah kelar. Dan entah kenapa rasanya weekend kemaren pengen cepet gue lalui dengan segera karena segala bentuk kesuntukan dan kebosanan yang gue alami. Sekarang udah senin aja, rasanya gue justru happy! Lah? Biasanya suntuk begitu denger kata senin. Hihihi. Tapi nggak tau deh kenapa gue rasanya justru seneng banget.

Nggak ngerti tepatnya kenapa, tapi rasanya senin itu memang hari yang tetap untuk menumbuhkan semangat baru untuk kerja (ya padahal mau nggak mau sih, wong hari awal kerja di minggu ini. Hehe).

Buat yang masih uring-uringan karena liburannya terpaksa udah kelar karena masuk kerja, just smile, beb. Kenapa? Can’t you feel the spirit? Semangat baru, pegang kertas dan kerjaan lagi setelah berleha-lehe *kena-jitak-semua-orang*

Rasanya gue aja nih yang hari ini ngerasa seneng banget ketemu hari senin. Hahaha *Happy monday all!! πŸ˜‰

[CatatanKecil] Boring

Sudah lebih dari 3 hari ini gue ngerasa boring, feel empty, ngerasa ada yang kurang, ngerasa bete. Woaaaaaaahhh. So much negative energy on me. Jadi beberapa hari ini gue give up buat ngerjain kerjaan gue (skripsi gue tepatnya), rasanya percuma ngerjain sesuatu yang serius kalo gue nggak bersemangat, nggak “a live“.

Jadilah gue kayak anak ilang, mencoba mencari semangat yang ilang dengan surfing internet, buka youtube, cari video lucu, cari video science ( most of them from discovery channel. hehe). Atau nonton videonya para artis holiwood yang lucu, sebut aja Tina Fey, terus ada Neil Patrick Harris, dan kadang nengokin bloopers-nya serial sitkom “How i met your mother“, lucu mampus deh.

Tapi tetep aja, rasanya masih ada yang kosong. Suasana sekitar yang bikin gue gini, mom masih aja ngerecokin gue, feels like she can’t leave me on a “peace” moment. Tebak-tebak berhadiah, gue rasa beliau cuma kesepian, tapi caranya cari perhatian malah bikin naik darah, untuk emak gue sih, kalo orang lain udah gue sambit pake bakiak.

Other else, hubungan dengan mr.big lagi “steady state“. Nggak hip-hip hura-hura, tapi juga lagi nggak down, tiap hari berada di kondisi “biasa aja”, komunikasi meski gak tiap jam, tiap hari kami pasti saling berhubungan meski cuma sekedar texting pamit mau bobok. Saking “steady“-nya, gue bingung mesti merespon gimana, mau marah, lah apa yang mau di marahin? Mau protes? Lah apanya yang mau diprotesin? Jadilah kepikiran, dosa nggak yah gue kalo seminggu ini anggep diri jomblo? Hahaha. Not to flirting other man loh ya, tapi cuma pengen relax nggak mikirin ini steady state yang bikin bingung dan nggak terlalu kepikiran apa-apa (maklum gue manusia rada sensi, aneh sedikit kepikiran, padahal ada banyak hal besar yang mesti gue pikirin. hehe).

Dan di malam ini, gue salurkan perasaan aneh ini lewat tulisan. Nggak nyangka kalo kondisi “nggak ada apa-apa sebenarnya” bisa seburuk ini. Mending yang “tarak-dung-ces-big-bang” sekalian. Setelah nenggak obat pusing tadi siang, gue masih juga nggak bisa tidur (eh, apa obatnya anti kantuk ya? Nggak tau deh). Tapi akhirnya, terapi nulis ini nggak mampu mengisi rasa kosong di hati dan pikiran. Dunno what to do now, disuruh liburan jalan-jalan binti pelesiran? Ain’t got no time for that, honey. Andai bisa juga gue udah melancong kemana-mana.

I’m stuck!

What Happened in May, stays in May – Part 3 (Prenup : Me and Him)

Giiiilllleeeeeeeeee… Ternyata sudah 24 hari kali terakhir gue edit ini postingan. Hehe. Sengaja gue tunda posting (dan berakhir dengan kelolosan) karena takut tulisan gue cuma sekedar euphoria semata saat kepulangannya sewaktu ulang tahun gue kemaren. Komunikasi kami soal pernikahan rasanya jadi selangkah lebih maju. Membahas soal Prenup/Prenuptial/Perjanjian Pra Nikah. Yaaaaaaaaayy! πŸ™‚

Prenup atau perjanjian pra nikah gue taunya dari temen-temen yang ada di blog ini. Sebelumnya, sumpah gue blank. Emang ada yang kayak gitu? Pertama kali denger tujuannya aja langsung : “Ini nyumpahin mau cerai yak?”. Hihihi. Tapi begitu dengar penjelasan panjang kali lebar oleh mbak noni disini, gue jadi ngerti bahwasanya prenup nggak cuma buat pasangan beda negara dan pake buat memisahkan harta benda suami dan istri. Banyak manfaatnya ternyata.

Begitu selesai baca, jadi kepikiran, karena kami berdua udah serius berencana untuk membangun rumah tangga (well, rencana baru di kami berdua sih, meski orang tua tau, but not officially yet). Gue memutuskan buat diskusiin ini sama si calon, tapi nggak bisa langsung sih. Secara nggak enak banget mau ngomong via telpon. Jadilah gue tunggu dia sampe pulang.

Begitu ketemu (dengan pake acara suprise yang nggak pernah gue duga, disini), di restoran siap saji langganan kami, gue mulai buka mulut soal niatan gue yang satu ini.

Gue : “Yank, tau perjanjian pra nikah nggak?” *eettt daagghh, gue udah salah ngomong, mestinya pake istilah aja dulu, siapa tau dia beneran kagak ngerti dan ngertinya cuma dari judul doank. Hihihi.

Mr.Big : “Ngerti” *sambil cengengesan.

Ya iyalaaahhh, masa bahasa indonesianya dia kagak ngerti *dongdong =___=”

Gue : “Prenup yank, prenuptial” *gue ulangi lagi dengan istilah. Meski telat ya biarin aja deh, dalem hati gue.

Mr.Big : “Iyaa, tauuuu” *kali ini cengengesan sambil ngangguk-ngangguk.

Nah loh, dia tau beneran. Jadilah giliran gue yang cenggok. Padahal kalo doi nggak tau sih gue mau jelasin A to Z tentang prenup. Hihihi. Gue makin gemes ngeliatin doi cengengesan. Belum sempat gue buka mulut lagi buat jelasin, doi nyeletuk.

Mr.Big : “Emang mau di pisah yank?”

Hihihi. Gue sebenarnya geli juga sih, wong gue belum punya apa-apa udah mau dipisah aja. Tapi bukan itu maksud gue dipisah.

Gue : “Dipisah dalam bentuk hukum aja sih yank. In case. Secara besok kerjanya di perusahaan (dia juga sih, meski BUMN ya sama aja perusahaan, dan kerja dimanapun tetep ada resikonya), hope so besok kalo kita berdua kerja bakal ada proyek ini itu dan bla bla bla lainnya. Resiko kesalahan jatuh ke kita pasti ada, sengaja atau nggak, pastinya bakal ada disuruh ganti rugi” *gue mulai nyerocos. Tapi belom selese gue lanjutin, doi motong pembicaraan gue.

Mr.Big : “Iya tau kok, jadi biar nggak harta kita berdua yang di tarik habis kan?” *doi kali ini tersenyum manis.

Aiihh, ternyata doi beneran dan seriusan ngerti. Hehe. Syukurlah.

Mr.Big : “Jadi, mau bikin perjanjiannya dimana, yank?” *cengengesan.

Ngoahahahaha. Gubraaaaaaaaakkk. Im not prepared to answering this. Gue jadi gelagapan dan menjawab, ya dimana ajaaaaa, yang penting ada notaris, beres. Hehe.

Gue takjub saat itu, sumpah, kalo bisa gue ngaca, pasti muka gue udah merah kayak kepiting rebus. Hehe. Baru kali merasakan ada lelaki yang serius beneran pengen mengambil alih tanggung jawab orang tua selama ini terhadap gue. Rasanya kayaaaaaaaaaaaaaakkk, sinetrooonnn, kayak di dongeng-dongeng para putri yang happily ever after. Meski setelah pulang ke rumah gue nyadar lagi, our war have not started yet. Hehe.