RSS Feed

Category Archives: Silly Habit

My Silly Habit

[QuickSummary] Last Week of June

Anybody missed me??? *ngarep lu non. Hahaha. Rasanya udah semingguan lebih deh nggak posting apa-apa. Lagi riweuh soalnya. Bukan ruwet sama kerjaan sih, ruwet sama mood sendiri. Hahaha.

So much thing to tell, dari mulai sindrom kebosanan yang melanda gue semingguan kemaren, target aktivitas dan belanjaan yang meleset mulu sampe acara berantem gue sama mr.big beberapa hari kemaren (and fully recovery bahkan sebelum 24 jam *ngakak). Kangen deh pengen menjejali otak kalian dengan curhatan gue yang nggak jelas *ditampol :p

Entah ada angin apa akhirnya gue jadi muaaaaaaaaaaalllleess ngapa-ngapain. Yang gue kerjain cuma browsing nggak jelas (browsing video “how it’s made” -nya Discovery Channel termasuk nggak jelas yah? Haha), nggak update blog dan nggak pula nggak update socmed. Rasanya hampa aja gitu. Lagi nggak mood dan di dukung kesibukan mr.big yang bikin gue ngerasa dicuekin, di kondisi kritis emosional (moody gue kumat).

Merasa kerjaan gue yang cuma browsing geje berakibat tertundanya lagi kerjaan-kerjaan yang seharusnya gue pegang, gue bikin to-do list, ya tapi gitu deeeeeeeeeeeeehhh, gegara mood lagi nggak enak, banyak yang missed, banyak yang telat dan bahkan ada yang nggak terlaksana sama sekali. Semacem deh sama list belanjaan gue yang udah gue susun, emang agak tricky kalo mau belanja hemat, harus rela ngiderin beberapa toko (kalo bisa simpan perkiraan harga biar gampang liat perbandingan harganya). Memang sih kalo di lihat per barang cuma selisih paling gede cuma 1000an, tapi dengan jumlah barang yang gue beli, kadang gue bisa hemat sampe 5000 rupiah, its quite amount of money buat pengangguran nggak jelas macem gue. Kan lumanyun bok segitu bisa beli pulsa. Haha. But now im failed, dengan alesan males kemana-mana, gue cuma belanja warung di depan rumah yang notabene-nya jauh lebih malah dari pada toko #ibu2modeON

Dan beberapa hari kemaren gue berantem dengan si pacar, yang mungkin diakibatkan akumulasi kekesalan gue terhadap sikap mr.big yang menyebalkan (eh, kalo cowok cuek terlalu cuek nggak bakal terlihat cool lagi, tapi menyebalkan!). Gue tau sih dia sibuk, dan gue nggak mau dan nggak bakal ganggu disaat dia sibuk. Tapi the hell deh, dia kan lagi nggak 24jam siaga bencana! Dih. Intinya, i just missed he call/text me first, its kind a feeling that he still remind me no matter what (apalagi pas dijamnya dia sibuk, tapi nggak nuntut juga sih kalo yang ini, cuma berasa romantis aja kalo emang sempet. Hihihi).

Tapi kampretnya mr.big semingguan kemaren adalah he makes me feel he totally forgot me! Pret! Kesannya gue tega bener yah ngatain pacar sendiri kampret, yes i admit that. He is not perfect, but not a jerk either, cuma sekedar kampret tok :p
Sikapnya yang (sok) cool bikin gue kadang geregetan dan biasanya protes, dan saat itu terjadi biasanya doi menerima masukan gue. Tapi sialnya kemaren, saking esmosinya gue, kita berdua yang sedang berkomunikasi by phone dengan posisi doi lagi di jalan (jangan ditiru yah adeeeekkk-adeeeeekk, nggak baek nerima telpon sambil berkendara. Hihi), dan gue keceplosan mengatakan sesuatu yang seharusnya gue nggak lakukan dalam suasana lagi protes, pernyataan yang nggak penting juga sebenarnya, tapi gueeeehhh lagi esmosi!

I kicked something about his job, memang sih kerjaan dia itu sante banget, ongkang-ongkang (dan herannya bergaji gede) tapi membutuhkan siaga penuh saat dibutuhkan. Biasanya kalo lagi bencanda sih kami berdua cekikikan aja nyindir kerjaannya dia, makan gaji buta gue bilang, tapi ternyata nggak lucu sama sekali kemaren dan justru menaikan suaranya beberapa oktaf karena tersinggung (dan marah pastinya). Gue nangis (dan kaget). Manusia dengan tipikal jarang marah dan lebih banyak cengegesan ternyata efek marahnya jauh lebih dahsyat ketimbang orang yang kita tau bertipikal pemarah dan hobby teriak-teriak.

Tapi mr.big bisa paham juga kalo gue ngomong gitu nggak benar-benar buat nyakiti dia, toh dia juga ngaku salah sih, memang semingguan lagi capek, tapi juga bukan alasan buat nyuekin gue seolah-olah gue nggak ada dan baru “ngeh” kalo gue udah nongol via sms/telpon.

Sama seperti 3 tahun yang lalu sebelum balikan lagi seperti saat ini, kami berdua tipe manusia yang easy going (meski kadang easy judging. haha), gampang baikannya. Diakhir percakapan yang bikin naik tensi darah tadi kami baikan, meski ada sisa-sisa peperangan tapi dia coba perbaiki dengan tawarkan buat bangunin gue subuh (biasanya sih bangun sendiri-sendiri trus tepar bobok lagi, haha) dan itu tandanya dia mengibarkan bendera “let’s forget our last fight, im sorry, i love you”. Dan dia menepatinya dengan menelpon gue ngebangunin buat sholat subuh. Huehehehe.

And now, komunikasi kami balik seperti sedia kala. Cerita-cerita via telpon, dan terkadang ngakak karena joke masing-masing dan diakhiri dengan doa spesial kami sebelum tidur seperti biasa yang udah rutin kami jalani hampir 1,5 tahun ini πŸ™‚

[CatatanKecil] The power of Monday

Weekend udah kelar. Dan entah kenapa rasanya weekend kemaren pengen cepet gue lalui dengan segera karena segala bentuk kesuntukan dan kebosanan yang gue alami. Sekarang udah senin aja, rasanya gue justru happy! Lah? Biasanya suntuk begitu denger kata senin. Hihihi. Tapi nggak tau deh kenapa gue rasanya justru seneng banget.

Nggak ngerti tepatnya kenapa, tapi rasanya senin itu memang hari yang tetap untuk menumbuhkan semangat baru untuk kerja (ya padahal mau nggak mau sih, wong hari awal kerja di minggu ini. Hehe).

Buat yang masih uring-uringan karena liburannya terpaksa udah kelar karena masuk kerja, just smile, beb. Kenapa? Can’t you feel the spirit? Semangat baru, pegang kertas dan kerjaan lagi setelah berleha-lehe *kena-jitak-semua-orang*

Rasanya gue aja nih yang hari ini ngerasa seneng banget ketemu hari senin. Hahaha *Happy monday all!! πŸ˜‰

Holding back my self while writing, is it bad?

Posted on

Apa buruk kalo semisalnya menahan diri saat menulis opini/curhat tentang suatu hal? Biasanya gue nahan diri dan lebih memilih opsi untuk menyimpan sementara tulisan tersebut ke dalam draft untuk kemudian gue review lagi sebelum posting ke blog. I used to be spontaneous, baik dalam ngomong ataupun berbuat. No wonder kadang kebanyakan orang di sekitar gue kaget dengan sikap gue, kaget kagum sampe kaget sebel. Hehe.

Tapi untuk tulisan, i often hold it back. Rasanya gue lebih memperhatikan apa yang gue tulis berdampak jelek ke orang lain, terutama tulisan gue yang cuma opini, bukan karya ilmiah apalagi tutorial. Tulisan semacam curhat, suka atau ketidaksukaan terhadap seseorang atau sesuatu, tentang sebuah pemikiran aneh yang bergelanyut di sudut kepala yang nggak berat sih cuma kadang ganggu.

Cerita-cerita tentang opini mungkin kedengarannya sepele yah, toh cuma opini gini. Tapi pernah nggak baca opini yang benar-benar menyentil apa yang kita yakini (bukan soal agama loh ya, lebih kearah soal sosial ataupun sesuatu selain agama) terlebih lagi kalo sempat debat geje dengan si empunya opini? Bete pastinya, mau nggak mau, meski kadar dan lama ke-bete-an seseorang beda-beda. Emangnya kenapa? Toh cuma sekedar bete, dan beda opini itu biasa. Tapi ganggu ceu! Gue pernah ngalami kayak gitu, yang nulis opini kok ya seenak udel sendiri (#oops) dan nge-judge banget tanpa mau bersimpati dengan orang yang berseberangan opini didalam tulisannya. Gue yang males banget ber-konfrontasi untuk sesuatu yang cuma opini jadi males komen. Naas-nya, yang tertinggal di gue adalah pikiran bete yang menguras energi positif gue hari itu, nggak ganggu sih karena hari itu gue nggak punya agenda khusus untuk konsentrasi terhadap sesuatu dan bad mood bisa merusaknya.

And thats why, gue sering nahen diri ketika menulis opini. Gue kebayang gimana opini gue yang cuma sekedar opini mungkin bisa merusak (well, meskipun sedikit) momen penting seseorang. Alhasil, di semua blog yang gue punya, draft-nya bejibun. Saat sedang senggang (menunggu jadwal atau yang lain) gue sering nulis apa saja yang terlintas dipikiran gue, cara pandang gue terhadap sesuatu ataupun berita (buruk atau baik) dari keseharian gue.

Seperti misalnya saja sekarang, big 3 draft yang gue gatel pengen post dan share dengan semua : Soal prenup yang selintas sudah gue omongin sama mister big, gue draft itu postingan karena pikir “it’s to early to talk about that, gue pikir sampe 2-3 tahun kedepan gue masih belom punya rencana matang merid – insya allah dengan mr.big dan urus ini itu bareng keluarga besar”. Trus soal Attention Disorder dan Autis, lagi-lagi cuma draft, habis topik ini agaknya sensitif bener kalo dibawakan dengan hanya berlandaskan opini meski isinya hanya curhatan gue soal attention disorder yang (kayaknya) gue alami. Dan soal-menyoal tentang curhat yang annoying serta batasannya (dalam aturan menurut gue), draft ini masih gue tahan karena kok ya gue seperti memberi batas garis apa dan gimana orang lain bisa curhat ke gue, parahnya gue cerita disini takutnya berdampak gue “sombong banget nggak mau dicurhati” oleh teman-teman disini, padahal sih ini menyoal orang-orang diluar blog ini yang kadang “ngeganggu” banget curhatnya.

Ini blog gue sendiri, seharusnya gue feel free apapun yang gue pengen tulis disini kan yak? Tapi menurut gue, nggak ada kebebasan absolut, setiap kebebasan masih terikat sebuah kewajiban meski ukurannya kecil. Dan menulis blog buat gue punya kewajiban untuk mengedukasi pembaca ke arah yang lebih baik *IMHO*, tapi ya itu deh, gue jadi keseringan menahan diri saat menulis sesuatu dan mencari cara supaya tulisan gue bisa win-win solution buat semua orang yang pro ataupun kontra dengan tulisan gue, biar efek “feeling guilty” sehabis baca tulisan gue bisa berkurang tapi tetap maksud tulisan gue tersampaikan.

Tapi tapiiiiiiiiiiiii.. jujur gue sebel mesti “holding back my self”, kadang berasa its not me banget gitu *hayaaahh :/

Jam 6, pengennya terbangun disini atau disana

Posted on

Saat pertama kali nulis post ini (sorry to say kalo ini ngepostnya dari sebuah draft. hehe), gue sedang pengen ke suatu tempat yang nuansanya syahdu. Dan suatu tempat bakal bernuasa lebih syahdu begitu jam 6 pagi, begitu menurut gue. Dimana mentari baru menunjukkan semburatnya, jadi nggak terlalu gelap seperti malam, tapi juga nggak kesiangan (katakanlah jam 7, paparan sinar udah cukup kuat menurut gue, dan hal itu seperti jadi alarm tersendiri buat gue wake-up lahir batin untuk menjalani hidup di sepanjang sisa hari).

Sekarang gue lagi ngebayangin, menempuh perjalanan ke suatu tempat dan tiba di sana pukul 6, gue tidur-tidur ayam (jiiiaahh emang ada gitu tidur ayam? :p ), entah itu di dalam mobil, apa diboceng seseorang (misalnya pacar/suami-wanna-be, atau seorang teman-gue-lebih-prefer-cewek-ya, yang sama gila-baik-itu-kelakuan-selera-dan-cara-berpikir-kayak-gue. hehe). Lokasinya, non? Mungkin ke sebuah bukit dipinggiran kota atau bukitnya di pinggir pantai dimana gue bisa memandang kebawah, atau ke pantainya sekalian, duduk di pasirnya, menatap nanar horizon kayak di sinetron. Haha. Atau berjalan di pinggiran peron stasiun kereta yang masih sepi. Dan juga mungkin nongkrong di McD sambil seruput teh hangat sambil ditemani sepotong hot pancake. Mmmmm… Sounds so calm.

Gue sedang mencari ketenangan, pengennya gitu. Mencari udara segar diantara segala macam keruwetan hidup gue yang entah kenapa rasanya ada di segala aspek kehidupan gue. Gue nggak lagi menyesali hidup gue sih, lah wong hidup = masalah kok, kalo nggak mau masalah yo wes matek bae, beres! *ditimpuk.

*self-monolog
Q : Eh, elu muslim kan, non?
A :Yup.
Q:Nggak coba sholat tahajud buat menghilangkan gundah gulana?
A:Mmmm, i’ve done that kalo gue lagi gundah gulana dan pengen curhat atau bahkan protes sama pemilik alam semesta. Masalahnya, suasana jam 6 yang gue maksud, gue bukan sedang gundah gulana karena suatu masalah tentunya. Buat gue, begitu ada masalah, gue lebih baik menyelesaikannya meski berdarah-darah (dalem hati sih kebanyakan), bukan take my time for something that wont get rid that problem.

Entah apa istilahnya perasaan gue sekarang. Yang jelas gue sedang pengen sebuah suasana tenang, cuma buat merenung, melihat kembali jalan yang sudah gue tempuh selama gue berlari. Dan selama gue berlari, gue jarang nengok ke belakang. Gue pengen melihat kembali tiap inci perjalanan hidup gue, entah itu yang cuma bisa gue sesali, gue syukuri, dan bisa buat gue tersenyum begitu mengenangnya.

Ya, tempat-tempat yang tadi coba gue sebutkan itu, ditambah dengan jam 6, pasti pas banget dengan perasaan semacam itu. Tapi sekarang gue belom bisa (saat gue nulis postingan ini), gue masih harus berjibaku, dibanting, di-streching, dan dicakar-cakar keadaan. Haha.

Semoga someday, gue bisa mendapat timing seperti yang gue idam-idamkan dalam tulisan ini.

I cheat on my own time.

Posted on

Sebut aja begadang. Kenapa gue sebut curang? Karena begadang itu udah melanggar aturan bobok sehat selama 8 jam. Lazimnya bangun jam 6 to? (atau lebih awal 15-30 menit untuk para muslim melaksanakan ibadahnya). Nah, biar kuota boboknya terpenuhi dan tepat bangun jam 6, mau nggak mau harusnya boboknya 10 teng kan?

Tapi gimana kalo kita sedang kepepet? Manusia dewasa kan penuh dengan pekerjaan yang kadang mau nggak mau buat kita mesti curang dengan waktu sehat kita sendiri. Contohnya aja gue semalem, karena keasyikan ngulik tugas, gue sampe tidurnya jam 3 pagi. Heuuuuu.

Efek yang nggak enak dari curang ini bukan cuma di raga tapi juga di jiwa. Soalnya, selain bakalan keliyengan tapi juga ngebuat diri ini ngerasa waktu begitu cepat berjalan, bangun jam 7 tadi eh sekarang nggak kerasa udah jam 10. Otak berasa lelet dan badan pun ikutan kompak. Beda kalo quota bobok sudah terpenuhi, waktu justru berjalan lebih lambat. Hoaaaaaam. Ada yang berasa seperti gue juga gak? Hehe πŸ™‚

Tapi mau gimana lagi? Semalem memang harus begadang demi mengerjakan target. Hehe. Sekarang waktunya mem-babu-buta sebelum ngelanjutin paper gue πŸ˜€

Posted from WordPress for Android

So many things to do, so little time i have

Weleh. Mulai males nih ngeblog si noni. Mulai banyak kesibukan begitu masuk kuliah. Tapi gue tetap sempatin buat ngeliat reader kok, pren. Liatin post kalian semua walau nggak komen *silent-reader-modeON*.

Entah sejak kapan rasanya gue mulai mengalami apa yang gue sebutkan di judul postingan ini. Mungkin saat gue sedikit demi sedikit mulai mendapat kebebasan yang terikat dengan beban tanggung jawab yang cukup berat, bukan lagi sebebas waktu masih kecil. Ini agaknya menandakan permulaan perjalanan Β  kedewasaan gue. Meski samar, gue mulai inget gimana sedikit demi sedikit gue dapat kebebasan berbeda dari yang gue terima sewaktu masih jadi bocah ingusan dan kebebasan ini juga ternyata dibarengi dengan tanggung jawab, sensasi yang beda banget.

Sebut aja sewaktu gue mulai dapet dompet sewaktu kelas 2 SMP. Dapet dompet dari mommy cuy, gue dapet tempat buat nyimpan duit sendiri, soalnya sebelumnya gue cuma nyimpen di kantong seragam sekolah. Lah mau gimana, wong habis sekali pake (dipake ke kantin sekolah. hehe).

Kemudian berlanjut gue mulai dikasi bawa motor sendiri waktu kelas 1 SMA, secara rumah sama sekolah dari ujung ke ujung, dan babeh juga nggak mungkin jadi babeh siaga anter jemput gue, secarah babeh gue orangnya sibuk bener sama urusan kantornya. Dan akhirnya gue dapet SIM, yang bikin gue bebas nggak perlu maen petak umpet sama pak polisi dan mblusuk-blusuk di jalan tikus a.k.a bekstrit :p

Trus masuk kuliah, duit jajan gue mulai jadi per bulan. Dimana gue bisa maintain sendiri dan kadang disisakan buat beli sesuatu yang gue pengen tapi nggak penting banget. Bebas rasanya.

Tapi rasa bebas itu bikin gue ngerasa makin tua. Makin banyak tanggung jawab terutama dengan apa yang gue kerjakan. Apa yang gue kerjakan buat menempuh cita-cita dan menyongsong masa depan (ciaaahh, bahasa lu non >.<). Dan terlebih lagi karena gue ini manusia bertipe “mefet-kefefet” dan mempunyai kekuatan sakti berupa “the power of kepepet”, gue makin sering ngerasa kekurangan waktu. Meski acara rusuh bernama kepepet itu menimbulkan adrenalin dan kreativitas tersendiri, tapi jangan ditiru yah, soalnya nggak ayal juga sering bikin sport-jantung. Hahaha.

Banyak banget yang gue pengen lakukan dan pengen gue capai sekarang. Bukan cuma yang jangka panjang, tapi juga jangka pendek. Tapi terkadang, semuanya nggak berjalan mulus semulus kulit bintang iklan lotion, kegiatan yang nggak direncanakan dan nggak terduga kadang bikin rencana acakadut. Ini gue sebut sebagai perusuh rencana, bikin gue makin dan makin ngerasa kekurangan waktu. Hiks.

Untuk kegiatan yang gue rencanakan, gue pikir do-able, dan ngerasa gue punya cukup waktu buat menyelesaikannya. Tapi tentunya Allah punya rencananya sendiri. Gue cuma manusia, cuma bisa berencana, dan sesuatu diluar rencana gue yang datang di kehidupan gue itu pasti lumrah adanya.

Sebut aja hari ini, kegiatan utama gue emang di pagi hari adalah kuliah, ngulang mata kuliah yang bernilai jeblok, wajib ini sih. Di malam sebelumnya gue udah ambil ancang-ancang kalo setelah pulang kuliah, gue ke ATM buat bayar speeedey yang telat beberapa minggu, terus belok ke supermarket beli obat nyamuk elektrik dan tissue. Eh, habis dari ATM ternyata perut gue keroncongan disko ajojing minta diisi. Akhirnya gue nyerah juga, nyari warung makan buat ngisi perut, ketimbang pingsan dijalan kan rempong 7 turunan.

Dan otak gue yang mendadak lemot begitu menikmati makanan enak jadi lupa setelah dari warung makan mestinya mampir ke supermarket. Bawaan yang ngantuk dan merasa nggak ada kegiatan lagi buat gue dengan santainya melajukan motor gue ke rumah. Niat tidur apalagi karena malam sebelumnya gue begadang keasyikan ngopreki laptop. Nyampe rumah dan ganti baju dikamar bikin gue mengerang begitu inget mestinya ke supermarket, mau balik lagi rasanya udah males, habisin waktu gue istirahat karena udah siang bolong dan gue perlu banget boboknya terlebih lagi di sore hari gue rencananya bakal mem-babu-buta bersihkan dapur.Β Skip deh ke supermarketnya.

Sore haripun berlalu dan gue udah selesai jadi upik abu. Niat mau mandi cantik terus ngeblog di sebelah dan menulis beberapa review soalnya mau ikut lomba. Etapi begitu gue ambil anduk, mommy udah njerit-jerit kesel begitu babeh nelpon kalo laptopnya yang lagi diperbaiki belom selese (dan entah kapan selese. kesian. cep cep). Akhirnya beliau nyuruh gue buat temenin babeh buat ngebeliin laptop mommy yang baru. Terpaksa gue digeret karena mommy bilang beliau kapok kalo soal elektronik dibeliin babeh, apalagi laptop yang terakhir dibeli rusaknya absurd parah. Babeh kagak ngerti apa-apa kata si mom. Karena gue anak IT, maka gue yang diutus untuk mencarikan laptop dengan harga pas-pasan tapi spec-nya nggak murahan. Well, bubar jalan deh rencana gue yang sebelumnya.

Balik dari beli laptop malah udah malem banget. Dan gue ngerasa sebel karena hari ini pencapaian yang udah gue rencanakan dan pengen gue dapet malah diganggu-gugat sama kegiatan yang nggak terduga. Hadeh. Gue akhirnya memaksakan diri melanjutkan kegiatan yang udah gue rencanakan sebelumnya meski udah larut malam. Padahal gue besok ada kuliah pagi.

Selesai mission complete, rasanya ada yang kurang. Gue ngerasa maksain diri untuk memenuhi rencana gue. Dan benar-benar ngerasa kekurangan waktu. Gue kesel sendiri, ingat kejadian seharian tadi bikin gue nggak bisa tidur, jadi gue tulis curhatan yang kepanjangan ini buat sekedar curhat dan berkeluh-kesah mencoba mengobati kekesalan gue. Hhh.

Times is money kata orang bule, and precious gue tambahkan. Semoga temen semua nggak merasa apa yang gue rasakan yak, amin πŸ™‚

Oh, boy

They are weird! All of them, include my babeh *true story*. Gue boong kalo bilang makhluk bernama cowok itu makhluk yang biasa aja dimata gue sebagai seorang cewek. Sumpah. Aneh. Nggak ayal kalo ada ungkapan “Men from mars”. Indeed.

Kenapa gue bisa bilang gitu? Coba pikir aja, most of them berantakannya luar biasa, kalo pun yang bersih itu bisa diitung jari atau 1 persen diantara 100 orang. Sebut saja 2 orang dalam kehidupan gue, adek dan babeh. They all total “mesh maker”. Habis mandi mbok ya itu handuk di gantung di belakang rumah biar kering, eh ini malah di gelemparkan di ruang tengah. Nggak jarang gue sama mom jadi suka ngomel-ngomel kedua orang ini yang sudah dibilangin sampe mulut berbusa kelakuannya nggak bisa berubah (well, at least untuk yang ini gue kompak sama si mom. hehe).

Apalagi untuk piring dan gelas yang dipakai diluar acara makan bersama tentunya, misalnya yang habis dipakai ambil kue atau minuman ringan. Nggak bisa gitu di cuci dikit aja? Toh cuma 2 biji, bukan segudang. Tapi ego mereka seperti mengatakan, sudahlah itu kerjaan cewek, let them clean it all. Dih.

Diluar dari kedua lelaki yang “permanen” dalam kehidupan gue tadi, gue udah cukup banyak menemukan tipe cowok terutama yang jadi mantan (dan termasuk pacar gue sekarang). Dari yang tipe kacung, sampe tipe cuek.

Tipe kacung ini awalnya memang menyenangkan. Soalnya punya prinsip “asal noni senang”. Etapi kok lama-lama ya kayaknya ini orang kayak nggak punya pendirian. Apalagi kalo sedang (yang seharusnya) berdebat, doi nrimo aja gitu. Berasa jadi pacaran sama diri sendiri, ngomong sama kaca, soalnya apa-apa ya nurut aja. Hih. Cowok kayak gini kalo memang mau tahan lama dengan dirinya, biasakan minta pendapatnya, harus pendapat dia, kalo nggak ya mending di ngambekin sekalian biar dirinya tau apa yang sebenarnya dia mau dan punya pendirian untuk itu.

Kebalikannya dari si kacung, tipe cowok dengan kategori “Im the bos” juga pernah gue pacari. Disini justru gue coba diperlakukan jadi kacungnya, etapi maap-maap aje ye bos, gue cewek yang punya kemauan dan pendirian sendiri, kita nggak bisa kompromi ya udah bubar jalan. Cowok model gini akhirnya gue ngerti ternyata harus di kerasi. Doi ngotot, kita ngotot balik dan tentunya dengan alasan yang masuk akal untuk pendapat kita. Tapi kalo memang doi masih bersikeras juga, ngalah dan tinggalkanlah dia, pasti bakal ter-bengong-bengong sendiri, apalagi kalo pendapat doi sendiri itu konyol dan sepele sebenarnya. Trust me, its works :p

Dan yang terakhir ini gue hadapi adalah tipe cowok cuek. Gue belom pernah menghadapi cowok macam ini. Karena diawal-awal sifat cueknya masih wajar menurut gue, dan itu bikin dia jadi satu-satunya cowok non-annoyingΒ yang pernah gue pacari. Haha. Gimana nggak? Namanya juga cuek, nggak terlalu sering krang-kring atau sms kayak cowok-cowok yang lain. Bukannya nggak perhatian sih, tapi sekalinya berkomunikasi kesannya seperti quality time buat kami berdua.

Tapi agaknya di tahun kedua kami pacaran ini, cueknya naik status jadi siaga 1. Hell yeah. Ini bikin gue kadang merasa nggak dianggap. Begitu gue protes, doi balik lagi ke kebiasaanya. Aih, ya sudah lah boy gue pikir. Sak arep mu lah. Gue cuek selama beberapa hari. Sms gue jawab sekedarnya. Not take his call in the prime time, kadang gue biarin aja. Sadis emang. Tapi nyatanya cukup mempan juga karena beberapa hari ini doi jadi perhatian banget. Hoahahaha. Baru berasa noni manis kesayangannya perlahan menjauh dan takut ninggalin dia kali yah. Jadinya super duper manis gitu. Geli sendiri sih jadinya, kayak ngerjain pacar sendiri biar kapok. Hehe πŸ˜€